Sabtu, 25 Agustus 2012

laporan praktikum teknik instrumentasi



LAPORAN PRAKTIKUM
TEKNIK INSTRUMENTASI
FISIOLOGI HEWAN
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1   Latar Belakang
Sering dilakukan percobaan untuk mengetahui bagian-bagian penyusun hewan, organ atau bahakan sel dari suatu organ dalam hewan tersebut. Untuk mengetahui itu semua, diperlukan pengetahuan tentang alat-alat yang digunakan untuk membuat preparat jadi ataupun untuk mengetahui keadaan fisik suatu hewan, dari detak jantungnya ataupun kadar gula darahnya.
Mikrotom merupakan alat yang digunakan untuk memotong penampang (bagian) yang sangat tipis, missal dari jaringan tanaman untuk diamati dibawah mikroskop (Keatjaningsih,1989).
Selain mikrotom, praktikan juga akan menggunakan sphygmomanometer dan stetoskop untuk mengukur tekanan darah, lalu gluco dr yang di gunakan untuk mengukur kadar gula darah. Dengan mengetahui alat-alat tersebut maka percobaan fisiologi hewan kedepan dapat dilakukan tanpa harus bingung lagi harus memperkenalkan alat-alat yang digunakan lagi.
1.2   Manfaat
Mengetahui keadaan fisiologis hewan akan memabantu praktikan mendiagnosis kelainan pada hewan. Mengetahui penyakit-penyakit yang berhubungan dengan tubuh. Mengetahui alat-alat dan cara penggunaan yang tepat akan membantu praktikan melakukan penelitian tentang hewan pada semester selanjutnya.
BAB 2
DASAR TEORI
2.1 Mikrotom
Mikrotom ditemukan pertama kali pada abad pertengahan ke-19. Gunanya adalah untuk mengiris bagian-bagian yang lebih tipis secara lebih akurat dan lebih dekat dari pada pisau tangan. Agar terlihat jelas, sample terlebih dahulu diberi pengawet dan diwarnai dengan tinta warna atau zat pewarna kemudian dicelupkan kedalam bongkahan lilin oleh mikrotopi. Bongkahan sample tersebut di bawa ke mata pisau kemudian kembali kedepan untuk membuat sayatan berikutnya. Cara kerja mikrotom menyerupai cara kerja mesin pemotong halus. Mikrotom sangat mempercepat proses penyediaan contoh jaringan tubuh pasien untuk pemeriksaan pantologi (Steve,1884).
Mikrotom membuat irisan-irisan yang tebalnya kurang dari ketebalan satu sel. Setiap irisan mempunyai ketebalan yang sangat tipis, sehingga semua sel dapat dalam keadaan yang sama (David,2000).
2.2 Sphygmomanometer
Sphygmomanometer merupakan alat yang digunakan untuk mengukur tekanan darah yang bekerja secara manual saat memompa maupun mengurangi tekanan pada manset, dengan system non manset. Alat ini penggunaannya sangat mudah dan tidak perlu keahlian khusus pada system penggabungan dengan manset pnumatik (Keatjaningsih, 1989).
Sebaiknya pengukuran tekanan darah dikerjakan dua kali dengan sphygmomanometer air raksa, kemudian diambil nilai rata-ratanya. Denyut nadi terjadi akibat adanya gelombang nadi yang merambat melalui dinding arteri mulai pada pangkal aorta. Gelombang nadi yang diraba pada arteri radialis adalah denyut nadi. Tiap gelombang nadi merupakan hasil dari suatu sistol atau kontraksi jantung (Jota,2001).
Tekanan darah diukur pada arteri, biasanya pada pangkal lengan. Lalu dipasang manset 1/3 lengan atas, ditempatkan diafragma pada arteri dan earpiece pada telinga lalu dibuka pengunci air raksa, dipompa pelan sambil dilihat skala dan dicari sistol dan diastolnya (Bresvick,2003).
Tekanan darah sistolik ditetapkan pada saat pertama kali terdengar bunyi, sedangkan tekanan darah diastolic ditetapkan pada saat bunyi menjadi hilang sewaktu menurunkan tekanan air raksa (Sunarsih,2001).
2.3 Stetoskop
Stetoskop ditemukan pertama kali oleh dokter prancis yaitu Rene Theophile Hyacinthe Leannec yang umumnya dianggap sebagai ayah dari obat dada. Inspirasinya didapat saat mendengarkan goresan pin yang dikirim lewat panjang sebuah balok kayu, kemudian dibuat tabung untuk mendengar dada pasien. Dari waktu yang diciptakan pada tahun 1816, hingga awal abad ini. Stetoskop adalah alat yang paling dapat di andalkan dan informative tersedia untuk mendiagnosis penyakit jantung (Yatim,1987).
Stetoskop berasal dari kata yunani, stetos yang artinya dada dan skopein yang artinya memeriksa. Alat ini merupakan media untuk menyampaikan suara-suara di dalam tubuh seorang pasien kepada telinga dokter yang memeriksanya (Keatjaningsih,1989).
Stetoskop digunakan karena berfungsi menghantarkan, mengumpulkan dan memilih frekuensi suara stetoskop terdiri dari beberapa bagian yaitu bagian kepala, selang karet/plastic dan telinga. Ada dua jenis kepala stetoskop, yaitu (Ambarwati,2009):
1.       Bel stetoskop digunakan untuk bunyi bernada rendah pada tekanan ringan seperti pada bunyi jantung dan vaskuler. Bila ditekankan lebih kuat maka nada frekuensi tinggi terdengar lebih keras karena kulit menjadi terenggang, maka kerjanya seperti diafragma.
2.       Diafragma digunakan untuk bunyi bernada tinggi seperti bunyi usus dan paru-paru.
Manset pada sphygmomanometer digembungkan secara cepat sampai pembacaan manometer sekitar 30mmHg (4,0 KPa). Yaitu diatas aras pada saat denyut nadi hilang dan kemudian dikempiskan perlahan-lahan dengan laju kira-kira 9 mmHg/s (0,3 KPa/s). pada saat ini bunyi koroktoff didengarkan memakai stetoskop yang ditempatkan diatas arteri lengan (Padmawinata,2001).
2.4 Alat tes gula darah
Gluco dr adalah suatu perngkat medis untuk menentukan perkiraan konsentrasi glukosa dalam darah. Ini adalah suatu alat yang digunakan untuk memantau kadar gula dalam darah bagi orang yang terserang diabetes mellitus. Gluco dr ini dilengkapi strep uji dan strep control. Gluco dr akan menampilkan tingkat kadar dalam mg/dl atau mmol/L. alat ini di temukan sekitar tahun 1980 dengan tujuan utama yaitu untuk pengolahan diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2 yang telah mencapai ketingkat mendekati normal. Glukosa meter harus memenuhi standart akurasi yang telah ditetapkan oleh organisasi internasional untuk standartisasi (ISO). Namun berbagai factor dapat mempengaruhi ke akuratan test. Factor-faktor yang mempengaruhi akurasi berbagai meter termasuk kalibrasi meter, penuaan strip (Davidson,1960).
DAFTAR PUSTAKA
Ambarwati,Eni Retno. 2009. KPPK kebidanan. Yogyakarta : Nuha Medika
Burni,Danid. 2009.jendela iptek seri2. Jakarta : Balai Pustaka
Jota,Santa. 2001. Diagnosis penyakit jantung. Jakarta:Widya Medika
Keatjaningsih.1989. petunjuk praktikum struktur dan fungsi manusia. Jakarta: D2LPTK
Steve.1984. biologi.Jakarta : Erlangga
Sunarsih,Try.2001. petunjuk kebidanan.Yogyakarta: Nuha Medika
Padmawinata,kosasih. 1996. Pengendalian hipertensi. Bandung: ITB press
Yatim,wildan.1987. biologi. Bandung: Tarsito

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar